Kamis, 26 Maret 2020

Malam Gerah 26 Maret 2020

Air mataku rasanya panas
Mati-matian ku tahan agar tak semakin deras
--

Lima hari lagi, 5 hari lagi akan sampai di penghujung Maret, pikir ku, ah sebentar lagi sudah mau masuk tahun ketiga hubungan pasang surut ini berjalan.
Beberapa kali terasa berat, seringkali aku merasa sedang berjalan sendiri, meraba-raba apakah tangan itu masih ku genggam.
Beberapa kali aku merasa kehilangan pijakan, ketika bersiteru, seringkali kata-kata kotor terlempar dari kami berdua, namun tak sekalipun ada niatan untuk saling meninggalkan, yang aku rasa.. ah betapa kuatnya ikatan ini.

--
Malam ini aku kesal, sedari siang kepala ku sudah terasa panas karna api amarah. Dada ku sesak.
Lalu.. dari segala ocehan, satu yang paling mengoyak
 >>"Ke ampo Lo Sai masalah anu kam ku pendam 3 bulan. Bahwa, babe sebenar no ria aku pengantan ke kau. Karena nerap ka beketoan Maya mu wisuda bau kotar tu lalo beketoan. Ku beling mo aku, "orang tuanya minta 50jt". Langsung Kesawan babe trus Sili ku. "Ya udh GK usah nikah sama dia, mending cari yg lain aja. Bapak GK mau keluar uang terlalu banyak cuma untuk nikah sehari doang. Sekalipun kamu bisa cari uang dan bisa kumpulin 50jt, GK bakalan bapak kasih kamu nikah sama dia".

--
Hati perempuan mana yang takkan patah dengan kalimat sepedas itu? :)


--
3 tahun kurang 5 hari.
Dengan air mata berderai-derai, aku berusaha berdamai dengan diri sendiri, mungkin memang harus selesai.

Agar tak ada pertengkaran lagi kedepannya.
Agar tak ada hati yang harus pulih lagi setelah pertengkaran.


Tapi om jedot, sungguh, aku cinta kamu.

Senin, 29 April 2019

Hujan ku

Menari sepuas hati dibawah derasnya, merela basah demi ketenangan yang dijanjikan.

Hujan..

Begitu banyak gundah yang ku coba buang seiring jatuhnya.

Tentang risau yang ku simpan dalam lelehan air mata, ku cinta dia.
Betapa sering gerimis menganak di pipi tiap kali merindunya.

Ribuan tanya yang ku simpan sendiri di relung ini tentang keadaan hatinya.

Ingin ku benar-benar tumpahkan semuanya bersama hujan, yang jatuhnya menjanjikan rasa tenang.

Minggu, 28 April 2019

Andai saja, andai saja..


Andai bisa..
Aku ingin kembali ke masa itu, masa ketika hati ini belum kamu genggam.

Andai bisa..
Ingin aku merentang jarak sejauh yang aku bisa, agar bertemu dengan mu menjadi suatu mustahil yang takkan pernah menjadi mungkin.

Andai bisa..
Aku jangan bertemu kamu, walau kosong hati ku tanpa penghuni, walau berdebu ruang cinta ku tanpa pengisi.

Andai bisa..
Walau bertemu, aku takkan membawa kamu ke dalam angan yang masih semak berduri, menjadi indah untuk kau tempati.

Andai bisa, walau takkan bisa, aku ingin kembali, pada masa semua ku lakukan sendiri, biarlah aku liar mencari, takkan luka aku tanpa kau temani.

Kini, ketika semua tak bisa, aku yang kepayahan sendiri, menerka-nerka hati masihkah kau kumiliki.

Bersikeras takkan ingin memperbaiki.. kepayahan disiksa rindu tak terperi.

Kini, rasanya ingin pergi, seolah tak pernah mengalami, biarlah perih aku hadapi, sudah terlalu lelah berlari sendiri..

Kamis, 25 April 2019

Hujan Riang Menari

Memar, lebam, berasa patah.
Sore ini aku pulang dengan hati yang basah, dengan raga yang berdarah-darah.
Rasanya lucu, aku luka karna aku cinta, omong kosong macam apa ini.

Entah harus tertawa, atau malah meratapi diri sendiri, seolah belum cukup, hujan dengan riangnya menari di sore kelabu ku. Abai akan aku yang bahkan belum setengah jalan menuju rumah.

Bukan kali ini saja, tak sekali dua kali, jika mau, aku bahkan takkan bisa menghitungnya, sudah berapa kali tangan itu melayang mencetak lebam dan memar diraga ini, pun menambah jumlah luka yang tak kunjung sembuh dihati juga.

Tangan dari orang yang setengah jiwa aku cinta, tangan yang seringkali ingin aku genggam ketika aku lelah, tangan yg tak pernah aku sangka akan mampu menghiasi ku dengan luka.

Lalu, masih waraskah jika setelah ini, terlepas dari apa yang lebih parah yang pernah aku alami sebelum ini, waraskah jika aku masih mencinta?

Waraskah aku?

Aku masih mencinta, sama gilanya dari semenjak awal aku cinta.

Kali ini, aku ingin pergi..
Entah akan bagaimana aku berjalan tanpa separuh warasku, aku ingin pergi, walau ketika lelah aku takkan bisa menggenggam tangan itu lagi, aku tak lagi sanggup.


Lebam luka memar ini sekarang terasa perih, dikecup hujan yang masih dengan riangnya menari.
Aku yang putus asa tak ingin menarik diri, biar sepuasnya aku menangisi hari ini, ditemani hujan, dibalut rasa sakit, dengan kecewa.
Aku pulang kali ini, mungkin takkan kembali.
Aku pamit, mungkin selamanya pergi.

Jumat, 29 Maret 2019

Mataram, di suatu malam bulan Maret

Aku sering memikirkanmu, ketika sampai pada bingung yang mengungkung, ketika gundah datang dengan resah.

..

Satu tahun lalu, diakhir bulan ini, cerita kita benar-benar bermula. Kita berjalan dan berkembang bersama, sampai beberapa bulan setelahnya.
kamu tau? Aku bahagia..

Hendak satu tahun kini, tak terhitung berapa konflik yang kita alami, entah berapa bahagia yang pernah kita bagi.
Namun aku, masih saja bahagia..

..

Sampai hari ini, aku masih bahagia, aku tetap bahagia, sangat-sangat bahagia.
Setidaknya, 'aku bahagia' itulah satu-satunya rasa yang boleh kau tau tentangku.

Dengan naif, aku tak ingin sedikitpun kau sadar, tiap kali kamu gores, aku luka, tak pernah sembuh, lalu semakin parah.

Memasuki satu tahun kini kita bersama, bertahan dengan label 'sayang' mungkin cinta yang entah kita rasa berdua atau hanya sendiri ku yang melayangkan asa.

namun


Pernah lelah.
Merasa kalah.
Aku sering memikirkan untuk pergi, membiarkanmu dengan bahagiamu tanpa aku.
Perasaan diabaikan, sering disalahkan, di usir, dimusuhi, dibenci.
Konflik.
Aku juga bisa luka..

Mungkin nanti, setelah luka parah
Mungkin nanti, sampai benar-benar sakit.
Mungkin nanti..

Entah akan bersama
Entah hanya sisa cerita

..

Mithflower, Maret 2018.
Post dengan sedikit perubahan

Jumat, 19 Oktober 2018

Rabu, 10 Oktober 2018

Ini aku, Waktu itu


Awalnya kupikir ini kebetulan, aku kebetulan bertemu sosok impian yang selama ini selalu menjadi tokoh utama setiap imajinasiku, jujur saja rasanya sangat indah, layaknya drama, aku jatuh hati pada pandang pertama.
 ..
 
Lalu aku mulai. aku merangkai berbagai cerita romantis yang dramatis ditiap malam ketika mata ku akan terlelap. Aku mulai senyum-senyum sendiri ketika terkadang disapa olehnya, dia indah, menyilaukan, membutakan.

Aku mengeja namanya ditiap cerita yang kucoba bagi dengan para sahabatku, mereka mengatakan aku gila! Karna hanya dia yang mengisi setiap perhatianku.

Minggu-minggu pertama mengenalnya sangat ajaib, dia begitu mempesona, aku tersipu ketika dia menyapaku, aku terdiam seketika ketika dia tersenyum. Ah! Kupikir sahabat-sahabatku memang benar jika aku sudah gila!

Aku jatuh hati, yang kupikirkan disetiap langkah hanya dia, begitu hebat, aku jatuh cinta dengan hanya sekali pertemuan dengan sosok dia.

Lalu.. apa ini berhasil? Ternyata tidak. Aku bukan satu-satunya yang dia buat jatuh hati, ada yang lain, bahkan beberapa. Mereka sama gilanya denganku, bedanya mereka lebih berani menunjukkan jika mereka jatuh hati, tidak sepertiku yang sembunyi dibalik topeng senang-senang.
Pada awalnya memang sangat indah, hingga akhirnya aku sadar, dia memang mempesona, dan pesonanya untuk semua perempuan, bukan hanya untukku seorang. Aku mencoba mengubur dalam-dalam angan yang selalu kurajut belakangan ini, ku coba hindari dia, hingga akhirnya tiga kata sakti itu terucap dari bibirku “aku ingin menjauhimu” aku berkata seperti itu, entah setan apa yang merasukiku, yang jelas setelah itu dia langsung pergi.. meninggalkan luka yang menganga dihati ini..

Aku terpuruk.. meninggalkannya seolah menjadi awal dari masa suram di salah satu episode hidupku. Masa yang dimana ketika makan, tidur, diamku menjadi hal yang selalu menghadirkan kenangan tentang dia, ‘jangan lupa makan’, jangan lupa solat’, kalimat pengingat yang selalu dia ucapkan ketika bersama menjadi begitu kurindukan. Yang aku sadari belakangan ternyata sangat sulit untuk lupakan dia.

Tentang dia, seminggu setelah kuminta pisah, ternyata hati yang dia miliki memang bukan untukku. Terbukti ketika kucari tau tentangnya yang menghilang ternyata dia sudah dimiliki oleh perempuan itu. Manis yang kurasakan ketika masih bersamanya perlahan menguap, tapi tak hilang sepenuhnya, masih menjadi boomerang yang selalu kuhindari hadirnya.

Selasa, 02 Oktober 2018

Hujan bulan September

Aku basah kuyup, entah tubuhku, entah pipiku.
entah sebab hujan, entah sebab airmata.
september tahun lalu, aku merangkai rasa hingga membentuk cinta yang berbunga-bunga
 ku temukan indah dalam manik mata berkornea coklat milik dia, kekasih hati ku.
tanpa kata, sepakat bersama.
Dengan bahagia aku menari bagai gila di tengah terpaan hujan, saat itu aku merasa itulah masa yang paling indah  yang aku rasa.
aku menggila
Aku rasa, dunia hanya milikku saja, tentu dengan dia di dalamnya.
lalu..
Seperti kata pepatah, hal yang baik berlalu begitu cepat.
Seolah tradisi; september selalu datang dengan hujan, begitu pun dia. selalu mengawali september dengan wanita barunya.
satu tahun, aku begitu menggebu, lalu tiba-tiba tertunduk layu.
Bosan, sanggahnya.
aku menari lagi, bagai gila, di tengah hujan, ku sembunyikan derai air mata yang tak mungkin ku tahan.  
aku basah kuyup, entah raga ku, entah hati ku.
hujan september, entah akan ku maki, atau lantas berterima kasih.

Rabu, 05 September 2018

Apa yang terpikir ketika pertama kali bangun pagi dibenakmu? (Siapapun kamu yang membaca ini).
Jika aku..
Yang terpikir terkadang; aku harus lebih produktif hari ini, ini awal menuju normal, harus lebih semangat hari ini, oh yeah, dan tak ada satupun yang terealisasi.
Beberapa kali, aku mencoba menulis, aku mencoba membuat puisi, novel, cerpen, dan apapun itu yang ku pikir aku berbakat melakukannya, selalu saja aku bertemu titik buntu. Dimana semua hal yang kupikir akan menjadi sesuatu yang menarik ketika ku tuang dalam secarik kertas, akan menguap ketika aku benar-benar berhadapan dengan kertas.
Ini menyebalkan tentu saja, banyak hal yang berputar dipikiran tapi tak satupun dapat dituang, merupakan sebuah kebodohan menurutku untuk diriku sendiri.
Dapatkah membantuku?

Jumat, 29 Desember 2017

Piagam Gumi Sasak: Upaya Bersama Untuk Menjaga Fitrah Suku Sasak.

Piagam Gumi Sasak

Suku sasak, yaitu suku asli yang mendiami pulau Lombok terkenal dengan beragam budaya dan tradisi yang menarik. Setiap tradisi yang dilakukan oleh suku sasak mempunyai makna tersendiri dan telah dilakukan secara turun temurun sesuai dengan ajaran para leluhurnya. Adat istiadat dan tradisi pada suku sasak beberapa masih terus di jaga  dan dilaksanakan hingga saat ini.
Namun, walaupun adat istiadatnya masih terus terjaga hingga saat ini, bukan berarti suku sasak tertutup dan tidak mengenal budaya luar, malah sebaliknya, suku sasak sangat terbuka terhadap globalisasi. Dampaknya suku sasak menjadi rentan terhadap arus negative globalisasi dan berdampak pula pada pelestarian budaya pada masyaraktnya yang beberapa diantaranya seolah terhapus dan tidak diperdulikan atau berubah nilainya pada kalangan pemuda generasi penerus sekarang ini.
Oleh sebab itu, ada beberapa orang yang peduli dan prihatin terhadap fenomena arus globalisasi yang berdampak mempengaruhi budaya dan nilai-nilai suku sasak ini tergerak untuk melindungi dan menjaga kebudayaan dan tradisi suku sasak. Dan terbentuklah piagam gumi sasak yang bertujuan sebagai bentuk pernyataan sikap menjaga dan melestarikan budaya sasak tanpa melenceng dari nilai sebenarnya.
Isi dari piagam gumi sasak ada sebagai berikut;
Piagam Gumi Sasak
Bismillahirrahmanirrahim
     Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangaa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
     Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut.


1. Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
2. Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
3. Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan tradisionalitas.
4. Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
5. Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia. 

Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal / 1437H.
26 Desember 2015.
Ditandatangani bersama kami,


1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.,
10. Dr. H. Sudirman M.Pd.
11. Dr. HL., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H,
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd.



Rabu, 27 Desember 2017

Terhormatnya kedua mempelai dengan adanya prosesi nyongkolan.

Bagaimana prosesi nyongkolan bisa membuat kedua mempelai yang melakukan mbait menjadi sama-sama terhormat?

Nyongkolan merupakan upacara mengunjungi rumah orang tua pengantin wanita oleh kedua pengantin/mempelai dengan diiringi oleh keluarga, kerabat dan kenalan dalam suasana meriah dan penuhh kegembiraan. Tujuannya untuk menampakkan  dirinya secara resmi dihadapan orangtua dandan keluarganya bahkan kepadaa seluruh masyarakat sambil meminta maaf serta memberi hormat kepada orangtua pengantin wanita.
Nyongkolan sendiri merupakan bagian dari prosesi perkawinan dalam adat sasak, nyongkolan ini didahului dengan belakoq atau mbait, ajikrama, sorong serah, akad atau ijab Kabul, baru prosesi nyongkolan ini bisa dilakukan.
Prosesi nyongkolan tidak dilakukan langsung setelah ijab Kabul, tetapi menunggu kesiapan kedua belah pihak, biasanya pihak pengantin pria akan menanyakan kepada pihak pengantin wanita kesiapannya menerima rombongan nyongkolan.
Pihak pengantin pria akan menunggu kesiapan keluarga pihak pengantin perempuan  menerima rombongan pihak pengantin pria, pihak pengantin perempuan yang akan menerima rombongan pihak pengantin pria dengan semua rombongannya akan malu jika tidak siap dalam menerima rombongan pihak pengantin pria, sehingga akan menyiapkan penyambutan yang tidak kalah meriah dengan rombongan pengantin pria.
Nyongkolan menjadikan kedua belah pihak pengantin menjadi sama-sama terhormat, karena pihak pengantin pria membawa pengantin perempuan kerumah orang tua pengantin wanita dengan cara terhormat dan diiringi oleh orang-orang terhormat pula (tetua desa, gadis-gadis cantik terpilih, pemuda-pemuda gagah terpilih, dan music). Sehingga pihak pengantin perempuan akan malu jika tidak menyambut pengantin pria dengan sepadan, pihak pengantin perempuan akan menyambut rombongan nyongkolan dengan kemeriahan, hiasan dan penyambutan yang sepadan dengan pihak pengantin pria, sehingga kedua belah pihak akan menjadi sama-sama terhormat di mata masyarakat.
Di Dalam rombongan nyongkolan terdiri dari pemuka adat atau para tetua desa, rombongan gadis-gadis yang mengiringi pengantin perempuan, rombongan para pemuda yang mengiringi pengantin pria, dan paling terakhir rombongan pemusik yang biasanya gendang beleq, rombongan ini dimaksudkan untuk menghormati pihak pengantin perempuan.
Dalam pelaksanaannya (nyongkolan) karena factor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah pengantin perempuan.
Sesampainya di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta doa restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui anak gadisnya dibawa oleh sang suami (pengantin pria).

Jumat, 22 Desember 2017

Malam luluran pengantin baru. Barodak, adat Taliwang.




  • Photo di atas merupakan foto pengantin yang sedang melaksanakan prosesi adat barodak dalam tradisi pernikahan masyarakat Taliwang, Sumbawa Barat.

BARODAK

Dalam tradisi pernikahan masyarakat Taliwang, Sumbawa Barat. Terdapat suatu prosesi yang namanya barodak, barodak sebenarnya adalah salah satu dari serangkaian prosesi untuk melaksanakan pernikahan dalam adat masyarakat Sumbawa Barat.
Barodak, dalam harfiahnya berarti luluran, yang dilaksanakan pada malam hari sebelum akad nikah.
Ritual barodak ini dilakukan setelah didahului proses perkawinan lainnya yaitu bajajak (menjajaki), tama bakatoan (melamar), basaputis (menetapkan hari baik, nyorong nyerah (hantaran), akad nikah, lalu besai (resepsi.
Barodak ini kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu. Pada pelaksanaan prosesi ini, inak odak akan memulai prosesinya, lalu satu persatu ibu-ibu atau tokoh adat yang ditunjuk akan melakukan pekerjaannya, yaitu mengusap lulur atau odak pada wajah dan lengan kedua pengantin. Disaat kegiatan ini berlangsung para bapak-bapak akan begenang dan beserunai (mamainkan alat music khas taliwang) untuk mengiringi prosesi barodak. Barodak dilakukan pada malam hari setelah isya dan berakhir sekitar  pukul 21.00 wita
Barodak ini merupakan ritual turun temurun dilakukan oleh masyarakat sumbawa sebagai bagian dari prosesi pernikahan, kegiatan ini memiliki makna tersendiri, dari aspek social terkandung nilai-nilai yaitu menjalin sillaturrahmi kepada keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat sekitar.
Dari aspek pendidikan, nilai yang diajarkan untuk mengenal ramuan tradisional, juga obat-obatan untuk kesehatan.
Ada mitos keyakinan masyarakat, jika  pengantin yang tidak di odak atau tidak menjalani prosesi barodak, akan mengalami kegilaan, sehingga barodak menjadi suatu keharusan bagi pengantin di sumbawa.


Rabu, 20 Desember 2017

NYONGKOLAN, IRINGAN RAJA DAN RATU SEHARI.


Adat nyongkolan suku sasak Lombok

Narasumber : Cedin Atmaja

Suku sasak adalah suku yang mendiami pulau Lombok, suku sasak mempunyai beragam tradisi dan budaya, salah satunya adalah tradisi nyongkolan.
Nyongkolan sendiri merupakan bagian dari prosesi perkawinan dalam adat sasak, nyongkolan ini didahului dengan belakoq atau mbait, ajikrama, sorong serah, akad atau ijab Kabul, baru prosesi nyongkolan ini bisa dilakukan.
Belakoq disini diartikan dengan pria yang ingin meminang si gadis akan meminta izin kepada ibu si gadis sebelum membawa si gadis untuk dinikahi.
Mbait adalah mengambil si gadis dari pekarangan rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua dengan catatan sudah membuat janji dengan si gadis, prosesi ini dilakukan pada malam hari biasanya dari magrib sampai setelah isya, pengantin pria ditemani oleh kerabatnya yang berrjenis kelamin wanita sebagai wali yang akan mengambil dan membawa si gadis.
Ajikrama adalah prosesi meminta restu wali pengantin perempuan dan menanyakan kesiapan pengantin pria oleh pihak pengantin perempuan, dan juga wali pengantin perempuan meminta hantaran sebagai seserahan perkawinan.
Sorong serah adalah prosesi mengantarkan hantaran dan pihak pengantin perempuan akan memeriksa barang hantaran, apakah sesuai kesepakatan atau tidak.
Setelah itu ijab Kabul untuk mengesahkan kedua penganti baru sesudahnya acara nyongkolan bisa dilaksanakan.
Nyongkolan dalam adat sasak bermakna untuk menghormati dan menghargai pihak pengantin perempuan.
Nyongkolan atau nyongkol berarti mengarak atau mengiringi secara beramai-ramai kedua mempelai ke rumah orang tua pengantin perempuan yang di adakan oleh pihak pengantin pria sebagai pengumuman bahwa kedua mempelai sudah dinikahkan dan telah sah menjadi pasangan suami istri, agar tidak menimbulkan fitnah dalam masyarakat.
Prosesi nyongkolan tidak dilakukan langsung setelah ijab Kabul, tetapi menunggu kesiapan kedua belah pihak, biasanya pihak pengantin pria akan menanyakan kepada pihak pengantin wanita kesiapannya menerima rombongan nyongkolan.
Di Dalam rombongan nyongkolan terdiri dari pemuka adat atau para tetua desa, rombongan gadis-gadis yang mengiringi pengantin perempuan, rombongan para pemuda yang mengiringi pengantin pria, dan paling terakhir rombongan pemusik yang biasanya gendang beleq, rombongan ini dimaksudkan untuk menghormati pihak pengantin perempuan.
Sesampainya di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta doa restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui anak gadisnya dibawa oleh sang suami (pengantin pria).