Jumat, 19 Oktober 2018
Rabu, 10 Oktober 2018
Ini aku, Waktu itu
Awalnya kupikir ini kebetulan, aku kebetulan
bertemu sosok impian yang selama ini selalu menjadi tokoh utama setiap imajinasiku,
jujur saja rasanya sangat indah, layaknya drama, aku jatuh hati pada pandang pertama.
..
Lalu aku mulai. aku merangkai berbagai cerita
romantis yang dramatis ditiap malam ketika mata ku akan terlelap. Aku mulai senyum-senyum
sendiri ketika terkadang disapa olehnya, dia indah, menyilaukan, membutakan.
Aku mengeja namanya ditiap cerita yang
kucoba bagi dengan para sahabatku, mereka mengatakan aku gila!
Karna hanya dia yang mengisi setiap perhatianku.
Minggu-minggu pertama mengenalnya sangat ajaib,
dia begitu mempesona, aku tersipu ketika dia menyapaku, aku terdiam seketika ketika
dia tersenyum. Ah! Kupikir sahabat-sahabatku memang benar jika aku sudah gila!
Aku jatuh hati, yang kupikirkan disetiap langkah
hanya dia, begitu hebat, aku jatuh cinta dengan hanya sekali pertemuan dengan sosok
dia.
Lalu.. apa ini berhasil? Ternyata tidak.
Aku bukan satu-satunya yang dia buat jatuh hati, ada yang lain, bahkan beberapa.
Mereka sama gilanya denganku, bedanya mereka lebih berani menunjukkan jika mereka
jatuh hati, tidak sepertiku yang sembunyi dibalik topeng senang-senang.
Pada awalnya memang sangat indah, hingga akhirnya
aku sadar, dia memang mempesona, dan pesonanya untuk semua perempuan, bukan hanya
untukku seorang. Aku mencoba mengubur dalam-dalam angan yang selalu kurajut belakangan
ini, ku coba hindari dia, hingga akhirnya tiga kata sakti itu terucap dari bibirku
“aku ingin menjauhimu” aku berkata seperti itu, entah setan apa yang
merasukiku, yang jelas setelah itu dia langsung pergi.. meninggalkan luka yang
menganga dihati ini..
Aku terpuruk.. meninggalkannya seolah menjadi
awal dari masa suram di salah satu episode hidupku. Masa yang dimana ketika makan,
tidur, diamku menjadi hal yang selalu menghadirkan kenangan tentang dia,
‘jangan lupa makan’, jangan lupa solat’, kalimat pengingat yang selalu dia ucapkan
ketika bersama menjadi begitu kurindukan. Yang aku sadari belakangan ternyata sangat
sulit untuk lupakan dia.
Tentang dia, seminggu setelah kuminta pisah,
ternyata hati yang dia miliki memang bukan untukku. Terbukti ketika kucari tau
tentangnya yang menghilang ternyata dia sudah dimiliki oleh perempuan itu. Manis
yang kurasakan ketika masih bersamanya perlahan menguap, tapi tak hilang sepenuhnya,
masih menjadi boomerang yang selalu kuhindari hadirnya.
Selasa, 02 Oktober 2018
Hujan bulan September
Aku basah kuyup, entah tubuhku, entah pipiku.
entah sebab hujan, entah sebab airmata.
september tahun lalu, aku merangkai rasa hingga membentuk cinta yang berbunga-bunga
ku temukan indah dalam manik mata berkornea coklat milik dia, kekasih hati ku.
tanpa kata, sepakat bersama.
Dengan bahagia aku menari bagai gila di tengah terpaan hujan, saat itu aku merasa itulah masa yang paling indah yang aku rasa.
aku menggila
Aku rasa, dunia hanya milikku saja, tentu dengan dia di dalamnya.
lalu..
Seperti kata pepatah, hal yang baik berlalu begitu cepat.
Seolah tradisi; september selalu datang dengan hujan, begitu pun dia. selalu mengawali september dengan wanita barunya.
satu tahun, aku begitu menggebu, lalu tiba-tiba tertunduk layu.
Bosan, sanggahnya.
aku menari lagi, bagai gila, di tengah hujan, ku sembunyikan derai air mata yang tak mungkin ku tahan.
aku basah kuyup, entah raga ku, entah hati ku.
hujan september, entah akan ku maki, atau lantas berterima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)