Piagam Gumi Sasak
Suku sasak, yaitu suku asli yang mendiami pulau Lombok terkenal dengan beragam budaya dan tradisi yang menarik. Setiap tradisi yang dilakukan oleh suku sasak mempunyai makna tersendiri dan telah dilakukan secara turun temurun sesuai dengan ajaran para leluhurnya. Adat istiadat dan tradisi pada suku sasak beberapa masih terus di jaga dan dilaksanakan hingga saat ini.
Namun, walaupun adat istiadatnya masih terus terjaga hingga saat ini, bukan berarti suku sasak tertutup dan tidak mengenal budaya luar, malah sebaliknya, suku sasak sangat terbuka terhadap globalisasi. Dampaknya suku sasak menjadi rentan terhadap arus negative globalisasi dan berdampak pula pada pelestarian budaya pada masyaraktnya yang beberapa diantaranya seolah terhapus dan tidak diperdulikan atau berubah nilainya pada kalangan pemuda generasi penerus sekarang ini.
Oleh sebab itu, ada beberapa orang yang peduli dan prihatin terhadap fenomena arus globalisasi yang berdampak mempengaruhi budaya dan nilai-nilai suku sasak ini tergerak untuk melindungi dan menjaga kebudayaan dan tradisi suku sasak. Dan terbentuklah piagam gumi sasak yang bertujuan sebagai bentuk pernyataan sikap menjaga dan melestarikan budaya sasak tanpa melenceng dari nilai sebenarnya.
Isi dari piagam gumi sasak ada sebagai berikut;
Piagam Gumi Sasak
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangaa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut.
1. Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
2. Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
3. Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan tradisionalitas.
4. Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
5. Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal / 1437H.
26 Desember 2015.
Ditandatangani bersama kami,
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.,
10. Dr. H. Sudirman M.Pd.
11. Dr. HL., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H,
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd.
Jumat, 29 Desember 2017
Rabu, 27 Desember 2017
Terhormatnya kedua mempelai dengan adanya prosesi nyongkolan.
Bagaimana prosesi nyongkolan bisa membuat kedua mempelai yang melakukan mbait menjadi sama-sama terhormat?
Nyongkolan merupakan upacara mengunjungi rumah orang tua pengantin wanita oleh kedua pengantin/mempelai dengan diiringi oleh keluarga, kerabat dan kenalan dalam suasana meriah dan penuhh kegembiraan. Tujuannya untuk menampakkan dirinya secara resmi dihadapan orangtua dandan keluarganya bahkan kepadaa seluruh masyarakat sambil meminta maaf serta memberi hormat kepada orangtua pengantin wanita.
Nyongkolan sendiri merupakan bagian dari prosesi perkawinan dalam adat sasak, nyongkolan ini didahului dengan belakoq atau mbait, ajikrama, sorong serah, akad atau ijab Kabul, baru prosesi nyongkolan ini bisa dilakukan.
Prosesi nyongkolan tidak dilakukan langsung setelah ijab Kabul, tetapi menunggu kesiapan kedua belah pihak, biasanya pihak pengantin pria akan menanyakan kepada pihak pengantin wanita kesiapannya menerima rombongan nyongkolan.
Pihak pengantin pria akan menunggu kesiapan keluarga pihak pengantin perempuan menerima rombongan pihak pengantin pria, pihak pengantin perempuan yang akan menerima rombongan pihak pengantin pria dengan semua rombongannya akan malu jika tidak siap dalam menerima rombongan pihak pengantin pria, sehingga akan menyiapkan penyambutan yang tidak kalah meriah dengan rombongan pengantin pria.
Nyongkolan menjadikan kedua belah pihak pengantin menjadi sama-sama terhormat, karena pihak pengantin pria membawa pengantin perempuan kerumah orang tua pengantin wanita dengan cara terhormat dan diiringi oleh orang-orang terhormat pula (tetua desa, gadis-gadis cantik terpilih, pemuda-pemuda gagah terpilih, dan music). Sehingga pihak pengantin perempuan akan malu jika tidak menyambut pengantin pria dengan sepadan, pihak pengantin perempuan akan menyambut rombongan nyongkolan dengan kemeriahan, hiasan dan penyambutan yang sepadan dengan pihak pengantin pria, sehingga kedua belah pihak akan menjadi sama-sama terhormat di mata masyarakat.
Di Dalam rombongan nyongkolan terdiri dari pemuka adat atau para tetua desa, rombongan gadis-gadis yang mengiringi pengantin perempuan, rombongan para pemuda yang mengiringi pengantin pria, dan paling terakhir rombongan pemusik yang biasanya gendang beleq, rombongan ini dimaksudkan untuk menghormati pihak pengantin perempuan.
Dalam pelaksanaannya (nyongkolan) karena factor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah pengantin perempuan.
Sesampainya di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta doa restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui anak gadisnya dibawa oleh sang suami (pengantin pria).
Nyongkolan merupakan upacara mengunjungi rumah orang tua pengantin wanita oleh kedua pengantin/mempelai dengan diiringi oleh keluarga, kerabat dan kenalan dalam suasana meriah dan penuhh kegembiraan. Tujuannya untuk menampakkan dirinya secara resmi dihadapan orangtua dandan keluarganya bahkan kepadaa seluruh masyarakat sambil meminta maaf serta memberi hormat kepada orangtua pengantin wanita.
Nyongkolan sendiri merupakan bagian dari prosesi perkawinan dalam adat sasak, nyongkolan ini didahului dengan belakoq atau mbait, ajikrama, sorong serah, akad atau ijab Kabul, baru prosesi nyongkolan ini bisa dilakukan.
Prosesi nyongkolan tidak dilakukan langsung setelah ijab Kabul, tetapi menunggu kesiapan kedua belah pihak, biasanya pihak pengantin pria akan menanyakan kepada pihak pengantin wanita kesiapannya menerima rombongan nyongkolan.
Pihak pengantin pria akan menunggu kesiapan keluarga pihak pengantin perempuan menerima rombongan pihak pengantin pria, pihak pengantin perempuan yang akan menerima rombongan pihak pengantin pria dengan semua rombongannya akan malu jika tidak siap dalam menerima rombongan pihak pengantin pria, sehingga akan menyiapkan penyambutan yang tidak kalah meriah dengan rombongan pengantin pria.
Nyongkolan menjadikan kedua belah pihak pengantin menjadi sama-sama terhormat, karena pihak pengantin pria membawa pengantin perempuan kerumah orang tua pengantin wanita dengan cara terhormat dan diiringi oleh orang-orang terhormat pula (tetua desa, gadis-gadis cantik terpilih, pemuda-pemuda gagah terpilih, dan music). Sehingga pihak pengantin perempuan akan malu jika tidak menyambut pengantin pria dengan sepadan, pihak pengantin perempuan akan menyambut rombongan nyongkolan dengan kemeriahan, hiasan dan penyambutan yang sepadan dengan pihak pengantin pria, sehingga kedua belah pihak akan menjadi sama-sama terhormat di mata masyarakat.
Di Dalam rombongan nyongkolan terdiri dari pemuka adat atau para tetua desa, rombongan gadis-gadis yang mengiringi pengantin perempuan, rombongan para pemuda yang mengiringi pengantin pria, dan paling terakhir rombongan pemusik yang biasanya gendang beleq, rombongan ini dimaksudkan untuk menghormati pihak pengantin perempuan.
Dalam pelaksanaannya (nyongkolan) karena factor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah pengantin perempuan.
Sesampainya di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta doa restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui anak gadisnya dibawa oleh sang suami (pengantin pria).
Jumat, 22 Desember 2017
Malam luluran pengantin baru. Barodak, adat Taliwang.
- Photo di atas merupakan foto pengantin yang sedang melaksanakan prosesi adat barodak dalam tradisi pernikahan masyarakat Taliwang, Sumbawa Barat.
BARODAK
Dalam tradisi pernikahan masyarakat Taliwang, Sumbawa Barat. Terdapat suatu prosesi yang namanya barodak, barodak sebenarnya adalah salah satu dari serangkaian prosesi untuk melaksanakan pernikahan dalam adat masyarakat Sumbawa Barat.
Barodak, dalam harfiahnya berarti luluran, yang dilaksanakan pada malam hari sebelum akad nikah.
Ritual barodak ini dilakukan setelah didahului proses perkawinan lainnya yaitu bajajak (menjajaki), tama bakatoan (melamar), basaputis (menetapkan hari baik, nyorong nyerah (hantaran), akad nikah, lalu besai (resepsi.
Barodak ini kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu. Pada pelaksanaan prosesi ini, inak odak akan memulai prosesinya, lalu satu persatu ibu-ibu atau tokoh adat yang ditunjuk akan melakukan pekerjaannya, yaitu mengusap lulur atau odak pada wajah dan lengan kedua pengantin. Disaat kegiatan ini berlangsung para bapak-bapak akan begenang dan beserunai (mamainkan alat music khas taliwang) untuk mengiringi prosesi barodak. Barodak dilakukan pada malam hari setelah isya dan berakhir sekitar pukul 21.00 wita
Barodak ini merupakan ritual turun temurun dilakukan oleh masyarakat sumbawa sebagai bagian dari prosesi pernikahan, kegiatan ini memiliki makna tersendiri, dari aspek social terkandung nilai-nilai yaitu menjalin sillaturrahmi kepada keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat sekitar.
Dari aspek pendidikan, nilai yang diajarkan untuk mengenal ramuan tradisional, juga obat-obatan untuk kesehatan.
Ada mitos keyakinan masyarakat, jika pengantin yang tidak di odak atau tidak menjalani prosesi barodak, akan mengalami kegilaan, sehingga barodak menjadi suatu keharusan bagi pengantin di sumbawa.
Barodak, dalam harfiahnya berarti luluran, yang dilaksanakan pada malam hari sebelum akad nikah.
Ritual barodak ini dilakukan setelah didahului proses perkawinan lainnya yaitu bajajak (menjajaki), tama bakatoan (melamar), basaputis (menetapkan hari baik, nyorong nyerah (hantaran), akad nikah, lalu besai (resepsi.
Barodak ini kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu. Pada pelaksanaan prosesi ini, inak odak akan memulai prosesinya, lalu satu persatu ibu-ibu atau tokoh adat yang ditunjuk akan melakukan pekerjaannya, yaitu mengusap lulur atau odak pada wajah dan lengan kedua pengantin. Disaat kegiatan ini berlangsung para bapak-bapak akan begenang dan beserunai (mamainkan alat music khas taliwang) untuk mengiringi prosesi barodak. Barodak dilakukan pada malam hari setelah isya dan berakhir sekitar pukul 21.00 wita
Barodak ini merupakan ritual turun temurun dilakukan oleh masyarakat sumbawa sebagai bagian dari prosesi pernikahan, kegiatan ini memiliki makna tersendiri, dari aspek social terkandung nilai-nilai yaitu menjalin sillaturrahmi kepada keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat sekitar.
Dari aspek pendidikan, nilai yang diajarkan untuk mengenal ramuan tradisional, juga obat-obatan untuk kesehatan.
Ada mitos keyakinan masyarakat, jika pengantin yang tidak di odak atau tidak menjalani prosesi barodak, akan mengalami kegilaan, sehingga barodak menjadi suatu keharusan bagi pengantin di sumbawa.
Rabu, 20 Desember 2017
NYONGKOLAN, IRINGAN RAJA DAN RATU SEHARI.
Adat nyongkolan suku sasak Lombok
Narasumber : Cedin Atmaja
Suku sasak adalah suku yang mendiami pulau Lombok, suku sasak mempunyai beragam tradisi dan budaya, salah satunya adalah tradisi nyongkolan.
Nyongkolan sendiri merupakan bagian dari prosesi perkawinan dalam adat sasak, nyongkolan ini didahului dengan belakoq atau mbait, ajikrama, sorong serah, akad atau ijab Kabul, baru prosesi nyongkolan ini bisa dilakukan.
Belakoq disini diartikan dengan pria yang ingin meminang si gadis akan meminta izin kepada ibu si gadis sebelum membawa si gadis untuk dinikahi.
Mbait adalah mengambil si gadis dari pekarangan rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua dengan catatan sudah membuat janji dengan si gadis, prosesi ini dilakukan pada malam hari biasanya dari magrib sampai setelah isya, pengantin pria ditemani oleh kerabatnya yang berrjenis kelamin wanita sebagai wali yang akan mengambil dan membawa si gadis.
Ajikrama adalah prosesi meminta restu wali pengantin perempuan dan menanyakan kesiapan pengantin pria oleh pihak pengantin perempuan, dan juga wali pengantin perempuan meminta hantaran sebagai seserahan perkawinan.
Sorong serah adalah prosesi mengantarkan hantaran dan pihak pengantin perempuan akan memeriksa barang hantaran, apakah sesuai kesepakatan atau tidak.
Setelah itu ijab Kabul untuk mengesahkan kedua penganti baru sesudahnya acara nyongkolan bisa dilaksanakan.
Nyongkolan dalam adat sasak bermakna untuk menghormati dan menghargai pihak pengantin perempuan.
Nyongkolan atau nyongkol berarti mengarak atau mengiringi secara beramai-ramai kedua mempelai ke rumah orang tua pengantin perempuan yang di adakan oleh pihak pengantin pria sebagai pengumuman bahwa kedua mempelai sudah dinikahkan dan telah sah menjadi pasangan suami istri, agar tidak menimbulkan fitnah dalam masyarakat.
Prosesi nyongkolan tidak dilakukan langsung setelah ijab Kabul, tetapi menunggu kesiapan kedua belah pihak, biasanya pihak pengantin pria akan menanyakan kepada pihak pengantin wanita kesiapannya menerima rombongan nyongkolan.
Di Dalam rombongan nyongkolan terdiri dari pemuka adat atau para tetua desa, rombongan gadis-gadis yang mengiringi pengantin perempuan, rombongan para pemuda yang mengiringi pengantin pria, dan paling terakhir rombongan pemusik yang biasanya gendang beleq, rombongan ini dimaksudkan untuk menghormati pihak pengantin perempuan.
Sesampainya di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta doa restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui anak gadisnya dibawa oleh sang suami (pengantin pria).
Langganan:
Postingan (Atom)

