Menari sepuas hati dibawah derasnya, merela basah demi ketenangan yang dijanjikan.
Hujan..
Begitu banyak gundah yang ku coba buang seiring jatuhnya.
Tentang risau yang ku simpan dalam lelehan air mata, ku cinta dia.
Betapa sering gerimis menganak di pipi tiap kali merindunya.
Ribuan tanya yang ku simpan sendiri di relung ini tentang keadaan hatinya.
Ingin ku benar-benar tumpahkan semuanya bersama hujan, yang jatuhnya menjanjikan rasa tenang.
Senin, 29 April 2019
Minggu, 28 April 2019
Andai saja, andai saja..
Andai bisa..
Aku ingin kembali ke masa itu, masa ketika hati ini belum kamu genggam.
Aku ingin kembali ke masa itu, masa ketika hati ini belum kamu genggam.
Andai bisa..
Ingin aku merentang jarak sejauh yang aku bisa, agar bertemu dengan mu menjadi suatu mustahil yang takkan pernah menjadi mungkin.
Ingin aku merentang jarak sejauh yang aku bisa, agar bertemu dengan mu menjadi suatu mustahil yang takkan pernah menjadi mungkin.
Andai bisa..
Aku jangan bertemu kamu, walau kosong hati ku tanpa penghuni, walau berdebu ruang cinta ku tanpa pengisi.
Aku jangan bertemu kamu, walau kosong hati ku tanpa penghuni, walau berdebu ruang cinta ku tanpa pengisi.
Andai bisa..
Walau bertemu, aku takkan membawa kamu ke dalam angan yang masih semak berduri, menjadi indah untuk kau tempati.
Walau bertemu, aku takkan membawa kamu ke dalam angan yang masih semak berduri, menjadi indah untuk kau tempati.
Andai bisa, walau takkan bisa, aku ingin kembali, pada masa semua ku lakukan sendiri, biarlah aku liar mencari, takkan luka aku tanpa kau temani.
Kini, ketika semua tak bisa, aku yang kepayahan sendiri, menerka-nerka hati masihkah kau kumiliki.
Bersikeras takkan ingin memperbaiki.. kepayahan disiksa rindu tak terperi.
Kini, rasanya ingin pergi, seolah tak pernah mengalami, biarlah perih aku hadapi, sudah terlalu lelah berlari sendiri..
Kamis, 25 April 2019
Hujan Riang Menari
Memar, lebam, berasa patah.
Sore ini aku pulang dengan hati yang basah, dengan raga yang berdarah-darah.
Rasanya lucu, aku luka karna aku cinta, omong kosong macam apa ini.
Entah harus tertawa, atau malah meratapi diri sendiri, seolah belum cukup, hujan dengan riangnya menari di sore kelabu ku. Abai akan aku yang bahkan belum setengah jalan menuju rumah.
Bukan kali ini saja, tak sekali dua kali, jika mau, aku bahkan takkan bisa menghitungnya, sudah berapa kali tangan itu melayang mencetak lebam dan memar diraga ini, pun menambah jumlah luka yang tak kunjung sembuh dihati juga.
Tangan dari orang yang setengah jiwa aku cinta, tangan yang seringkali ingin aku genggam ketika aku lelah, tangan yg tak pernah aku sangka akan mampu menghiasi ku dengan luka.
Lalu, masih waraskah jika setelah ini, terlepas dari apa yang lebih parah yang pernah aku alami sebelum ini, waraskah jika aku masih mencinta?
Waraskah aku?
Aku masih mencinta, sama gilanya dari semenjak awal aku cinta.
Kali ini, aku ingin pergi..
Entah akan bagaimana aku berjalan tanpa separuh warasku, aku ingin pergi, walau ketika lelah aku takkan bisa menggenggam tangan itu lagi, aku tak lagi sanggup.
Lebam luka memar ini sekarang terasa perih, dikecup hujan yang masih dengan riangnya menari.
Aku yang putus asa tak ingin menarik diri, biar sepuasnya aku menangisi hari ini, ditemani hujan, dibalut rasa sakit, dengan kecewa.
Aku pulang kali ini, mungkin takkan kembali.
Aku pamit, mungkin selamanya pergi.
Entah harus tertawa, atau malah meratapi diri sendiri, seolah belum cukup, hujan dengan riangnya menari di sore kelabu ku. Abai akan aku yang bahkan belum setengah jalan menuju rumah.
Bukan kali ini saja, tak sekali dua kali, jika mau, aku bahkan takkan bisa menghitungnya, sudah berapa kali tangan itu melayang mencetak lebam dan memar diraga ini, pun menambah jumlah luka yang tak kunjung sembuh dihati juga.
Tangan dari orang yang setengah jiwa aku cinta, tangan yang seringkali ingin aku genggam ketika aku lelah, tangan yg tak pernah aku sangka akan mampu menghiasi ku dengan luka.
Lalu, masih waraskah jika setelah ini, terlepas dari apa yang lebih parah yang pernah aku alami sebelum ini, waraskah jika aku masih mencinta?
Waraskah aku?
Aku masih mencinta, sama gilanya dari semenjak awal aku cinta.
Kali ini, aku ingin pergi..
Entah akan bagaimana aku berjalan tanpa separuh warasku, aku ingin pergi, walau ketika lelah aku takkan bisa menggenggam tangan itu lagi, aku tak lagi sanggup.
Lebam luka memar ini sekarang terasa perih, dikecup hujan yang masih dengan riangnya menari.
Aku yang putus asa tak ingin menarik diri, biar sepuasnya aku menangisi hari ini, ditemani hujan, dibalut rasa sakit, dengan kecewa.
Aku pulang kali ini, mungkin takkan kembali.
Aku pamit, mungkin selamanya pergi.
Langganan:
Postingan (Atom)