Sore ini aku pulang dengan hati yang basah, dengan raga yang berdarah-darah.
Rasanya lucu, aku luka karna aku cinta, omong kosong macam apa ini.
Entah harus tertawa, atau malah meratapi diri sendiri, seolah belum cukup, hujan dengan riangnya menari di sore kelabu ku. Abai akan aku yang bahkan belum setengah jalan menuju rumah.
Bukan kali ini saja, tak sekali dua kali, jika mau, aku bahkan takkan bisa menghitungnya, sudah berapa kali tangan itu melayang mencetak lebam dan memar diraga ini, pun menambah jumlah luka yang tak kunjung sembuh dihati juga.
Tangan dari orang yang setengah jiwa aku cinta, tangan yang seringkali ingin aku genggam ketika aku lelah, tangan yg tak pernah aku sangka akan mampu menghiasi ku dengan luka.
Lalu, masih waraskah jika setelah ini, terlepas dari apa yang lebih parah yang pernah aku alami sebelum ini, waraskah jika aku masih mencinta?
Waraskah aku?
Aku masih mencinta, sama gilanya dari semenjak awal aku cinta.
Kali ini, aku ingin pergi..
Entah akan bagaimana aku berjalan tanpa separuh warasku, aku ingin pergi, walau ketika lelah aku takkan bisa menggenggam tangan itu lagi, aku tak lagi sanggup.
Lebam luka memar ini sekarang terasa perih, dikecup hujan yang masih dengan riangnya menari.
Aku yang putus asa tak ingin menarik diri, biar sepuasnya aku menangisi hari ini, ditemani hujan, dibalut rasa sakit, dengan kecewa.
Aku pulang kali ini, mungkin takkan kembali.
Aku pamit, mungkin selamanya pergi.
Entah harus tertawa, atau malah meratapi diri sendiri, seolah belum cukup, hujan dengan riangnya menari di sore kelabu ku. Abai akan aku yang bahkan belum setengah jalan menuju rumah.
Bukan kali ini saja, tak sekali dua kali, jika mau, aku bahkan takkan bisa menghitungnya, sudah berapa kali tangan itu melayang mencetak lebam dan memar diraga ini, pun menambah jumlah luka yang tak kunjung sembuh dihati juga.
Tangan dari orang yang setengah jiwa aku cinta, tangan yang seringkali ingin aku genggam ketika aku lelah, tangan yg tak pernah aku sangka akan mampu menghiasi ku dengan luka.
Lalu, masih waraskah jika setelah ini, terlepas dari apa yang lebih parah yang pernah aku alami sebelum ini, waraskah jika aku masih mencinta?
Waraskah aku?
Aku masih mencinta, sama gilanya dari semenjak awal aku cinta.
Kali ini, aku ingin pergi..
Entah akan bagaimana aku berjalan tanpa separuh warasku, aku ingin pergi, walau ketika lelah aku takkan bisa menggenggam tangan itu lagi, aku tak lagi sanggup.
Lebam luka memar ini sekarang terasa perih, dikecup hujan yang masih dengan riangnya menari.
Aku yang putus asa tak ingin menarik diri, biar sepuasnya aku menangisi hari ini, ditemani hujan, dibalut rasa sakit, dengan kecewa.
Aku pulang kali ini, mungkin takkan kembali.
Aku pamit, mungkin selamanya pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar